Jumat, 21 September 2018

TIP SUKSES BERBISNIS ALA BOS AMAZON

TIP SUKSES BERBISNIS ALA BOS AMAZON
https://ekonomi.kompas.com/read/2018/09/15/101906926/tips-sukses-berbisnis-ala-bos-amazon


Tips Sukses Berbisnis ala Bos Amazon Mutia Fauzia Kompas.com - 15/09/2018, 10:19 WIB CEO Amazon Jeff Bezos CEO Amazon Jeff Bezos(pinterest) NEW YORK, KOMPAS.com - Sebagai pendiri sekaligus pimpinan dari perusahaan dengan kapitalisasi pasar mendekati 1 triliun dollar AS, CEO Amazon Jeff Bezos tentu sudah khatam mengenai ilmu-ilmu menjalani bisnis. Bezos memulai Amazon.com pada tahun 1994 sebagai sebuah toko buku online. Di awal-awal mengembangkan perusahaannya, Bezos hanya memiliki kantor kecil yang dua dekade kemudian mampu menghasilkan 177 miliar dollar AS per tahun. Sementara itu, kepemilikan bersihnya dari perusahaan yang dia rintis tersebut lebih dari 160 miliar dollar AS. Dia juga memiliki bisnis-bisnis sampingan, termasuk perusahaan wisata luar angkasa Blue Origin, juga kepemilikan atas Washington Post. Berikut adalah tips Bezos mengenai cara mengelola bisnsi yang sukses: 1. Mulai dari hal kecil Bezos menyukai hal-hal yang dimulai dari kecil dan lebih personal, terutama ketika membangun sebuah perusahaan baru. Dia mengatakan, Amazon hanya memiliki 5 karyawan di awal-awal waktu berdirinya. "Mungkin sulit bagi kalian mengingatnya, tapi bagi saya ini seperti baru saja berkendara sendiri untuk mengantar paket-paket ke kantor pos sembari berharap suatu hari nanti bisa menyewa forklift," ujar Bezos. 2. Ikuti Intuisi Di dunia bisnis, Bezos beranggapan, naluri lebih penting dari data. "Jika Anda dapat membuat keputusan dengan analisis, Anda harus melakukannya. Tetapi ternyata dalam hidup Anda bahwa keputusan terpenting selalu dibuat dengan naluri dan intuisi," katanya. 3. Tidur adalah Penting Seperti pendiri Huffington Post Arianna Huffington, Bezos sangat mendukung pentingnya istirahat malam, terlepas dari betapa padatnya jadwal yang dia miliki. Bezos mengatakan, setiap malam dia tidur selama 8 jam. "Sebagai seorang eksekutif senior, Anda dibayar untuk membuat sedikit keputusan tetapi berkualitas tinggi. Tugas Anda bukanlah membuat ribuan keputusan setiap hari." 4. Jadwalkan pertemuan penting lebih awal Bezos mengatakan bahwa dia menjadwalkan pertemuan-pertemuan yang membutuhkan “IQ tinggi” jam 10 pagi, sebelum dia kelelahan setelah bekerja seharian. "Pekerjaan apa pun yang akan benar-benar menantang secara mental, akan dilakukan jam 10," katanya. “Dan jam 5 sore (ketika harus dihadapkan pada hal yang sulit) Saya akan mengatakan, 'Saya tidak bisa memikirkan itu hari ini. Mari coba lagi besok jam 10 pagi," ujar dia. 5. Berpikir jauh ke depan Sebagai pengguna awal e-commerce sebagai sebuah platform jual-beli, Amazon telah mengembangkan reputasi menjadi bisnis e-commerce yang terdepan. Bezos berpendapat bahwa berpikir ke depan, terkadang bertahun-tahun sebelumnya, adalah bagian penting dari setiap perusahaan yang sukses. “Semua eksekutif senior kami beroperasi dengan cara yang sama seperti saya. Mereka bekerja di masa depan, mereka hidup di masa depan," kata dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tips Sukses Berbisnis ala Bos Amazon", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/09/15/101906926/tips-sukses-berbisnis-ala-bos-amazon.
Penulis : Mutia Fauzia
Editor : Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tips Sukses Berbisnis ala Bos Amazon Mutia Fauzia Kompas.com - 15/09/2018, 10:19 WIB CEO Amazon Jeff Bezos CEO Amazon Jeff Bezos(pinterest) NEW YORK, KOMPAS.com - Sebagai pendiri sekaligus pimpinan dari perusahaan dengan kapitalisasi pasar mendekati 1 triliun dollar AS, CEO Amazon Jeff Bezos tentu sudah khatam mengenai ilmu-ilmu menjalani bisnis. Bezos memulai Amazon.com pada tahun 1994 sebagai sebuah toko buku online. Di awal-awal mengembangkan perusahaannya, Bezos hanya memiliki kantor kecil yang dua dekade kemudian mampu menghasilkan 177 miliar dollar AS per tahun. Sementara itu, kepemilikan bersihnya dari perusahaan yang dia rintis tersebut lebih dari 160 miliar dollar AS. Dia juga memiliki bisnis-bisnis sampingan, termasuk perusahaan wisata luar angkasa Blue Origin, juga kepemilikan atas Washington Post. Berikut adalah tips Bezos mengenai cara mengelola bisnsi yang sukses: 1. Mulai dari hal kecil Bezos menyukai hal-hal yang dimulai dari kecil dan lebih personal, terutama ketika membangun sebuah perusahaan baru. Dia mengatakan, Amazon hanya memiliki 5 karyawan di awal-awal waktu berdirinya. "Mungkin sulit bagi kalian mengingatnya, tapi bagi saya ini seperti baru saja berkendara sendiri untuk mengantar paket-paket ke kantor pos sembari berharap suatu hari nanti bisa menyewa forklift," ujar Bezos. 2. Ikuti Intuisi Di dunia bisnis, Bezos beranggapan, naluri lebih penting dari data. "Jika Anda dapat membuat keputusan dengan analisis, Anda harus melakukannya. Tetapi ternyata dalam hidup Anda bahwa keputusan terpenting selalu dibuat dengan naluri dan intuisi," katanya. 3. Tidur adalah Penting Seperti pendiri Huffington Post Arianna Huffington, Bezos sangat mendukung pentingnya istirahat malam, terlepas dari betapa padatnya jadwal yang dia miliki. Bezos mengatakan, setiap malam dia tidur selama 8 jam. "Sebagai seorang eksekutif senior, Anda dibayar untuk membuat sedikit keputusan tetapi berkualitas tinggi. Tugas Anda bukanlah membuat ribuan keputusan setiap hari." 4. Jadwalkan pertemuan penting lebih awal Bezos mengatakan bahwa dia menjadwalkan pertemuan-pertemuan yang membutuhkan “IQ tinggi” jam 10 pagi, sebelum dia kelelahan setelah bekerja seharian. "Pekerjaan apa pun yang akan benar-benar menantang secara mental, akan dilakukan jam 10," katanya. “Dan jam 5 sore (ketika harus dihadapkan pada hal yang sulit) Saya akan mengatakan, 'Saya tidak bisa memikirkan itu hari ini. Mari coba lagi besok jam 10 pagi," ujar dia. 5. Berpikir jauh ke depan Sebagai pengguna awal e-commerce sebagai sebuah platform jual-beli, Amazon telah mengembangkan reputasi menjadi bisnis e-commerce yang terdepan. Bezos berpendapat bahwa berpikir ke depan, terkadang bertahun-tahun sebelumnya, adalah bagian penting dari setiap perusahaan yang sukses. “Semua eksekutif senior kami beroperasi dengan cara yang sama seperti saya. Mereka bekerja di masa depan, mereka hidup di masa depan," kata dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tips Sukses Berbisnis ala Bos Amazon", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/09/15/101906926/tips-sukses-berbisnis-ala-bos-amazon.
Penulis : Mutia Fauzia
Editor : Sakina Rakhma Diah Setiawan

KREDIT LALAI DAN DAMPAKNYA


 BERCERMIN PADA KRISIS  TURKI
Becermin pada Krisis Nilai Tukar Turki

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Becermin pada Krisis Nilai Tukar Turki", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/09/21/130323626/becermin-pada-krisis-nilai-tukar-turki.

Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Becermin pada Krisis Nilai Tukar Turki

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Becermin pada Krisis Nilai Tukar Turki", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/09/21/130323626/becermin-pada-krisis-nilai-tukar-turki.

Editor : Bambang Priyo Jatmiko

 https://ekonomi.kompas.com/read/2018/09/21/130323626/becermin-pada-krisis-nilai-tukar-turki

Desmon Silitonga 
Head Investment Analis PT Capital Asset Management, alumnus Pascasarjana FE UI.

 Becermin pada Krisis Nilai Tukar Turki Desmon Silitonga Kompas.com - 21/09/2018, 13:03 WIB Petugas menunjukkan uang Lira di kantor penukaran uang di Istanbul, 13 Agustus 2018. Dirundung krisis ekonomi, nilai tukar mata uang Turki lira merosot tajam. Hingga Jumat (10/8/2018) lalu, posisi lira anjlok 15,88 persen ke level 6,4323 per dollar Amerika Serikat (AS). Petugas menunjukkan uang Lira di kantor penukaran uang di Istanbul, 13 Agustus 2018. Dirundung krisis ekonomi, nilai tukar mata uang Turki lira merosot tajam. Hingga Jumat (10/8/2018) lalu, posisi lira anjlok 15,88 persen ke level 6,4323 per dollar Amerika Serikat (AS).(AFP PHOTO/YASIN AKGUL) PEREKONOMIAN Indonesia sedang dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Dari sisi eksternal, berbagai risiko terus bermunculan. Kita belum selesai disuguhi dengan perang dagang antara AS dengan sejumlah negara, khususnya China dan tekanan yang dialami oleh sejumlah negara di kawasan emerging. Salah satunya Turki. Sebagaimana diketahui, pada pertegahan Agustus 2018, nilai tukar lira Turki terjerembab sebesar 16 persen terhadap nilai tukar dollar AS. Ini merupakan pelemahan harian paling dalam dan membuat kinerja nilai tukar lira menjadi yang terburuk di antara nilai tukar di kawasan emerging. Situasi ini membuat ekonomi Turki berada di ambang krisis. Jika tidak ditangani dengan serius dan komprehensif, bisa membuka ruang bagi terjadinya krisis ekonomi baru. Harus diakui dengan keterbukaan ekonomi global, permasalahan ekonomi di satu negara bisa memicu penjalaran (contagion) terhadap ekonomi negara-negara lain. Harus diakui bahwa kejatuhan nilai tukar lira ini merupakan buah dari ketidakhati-hatian, khususnya dalam pengelolaan utang luar negeri (ULN). Turki terlalu bergantung pada ULN, khususnya yang berasal dari negara-negara di Eropa. Turki memanfaatkan rendahnya tingkat suku bunga pinjaman di Eropa untuk terus mengakumulasi ULN. Tidaklah mengherankan, pada tahun 2017, total ULN Turki (pemerintah dan Korporasi) menembus 453,2 miliar dollar AS. Nilai ULN meningkat dua kali lipat dibandingkan posisi ULN pada 2009. ULN ini digunakan sebagai sumber pembiayaan ekonomi. Tidaklah mengherankan, pada kuartal I 2018, ekonomi Turki bisa tumbuh sebesar 7,4 persen (year on year/yoy). Bahkan, pada kuartal III 2017 sempat menyentuh level 11,3 persen (yoy). Tidak banyak negara yang mampu mencapai pertumbuhan ekonomi setinggi ini, khususnya di tengah moderasi pertumbuhan ekonomi global. Namun, masalah mulai terjadi, yaitu ketika bank sentral di negara-negara maju, khususnya AS, mulai menaikkan suku bunga kebijakannya seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian dan untuk mengantisipasi lonjakan inflasi. Dana global balik kandang dan aliran dana keluar pun mulai berlangsung. Turki tidak bisa mengantisipasinya, karena terlalu terlena dengan ULN yang murah. Turki pun tidak disiplin dalam menjaga kesehatan fiskal dan moneternya. Hal ini tecermin dari besarnya defisit transaksi berjalan (DTB). Dalam sepuluh tahun terakhir, Turki setidaknya terus didera oleh DTB besar. Tidak ada perbaikan yang signifikan. Situasi makin tak kondusif karena pemilik dana di pasar keuangan Turki memberikan hukuman dengan menarik dana mereka secara beramai-ramai. Pemilik dana telah mengingatkan bahwa Bank Sentral Turki (TCMB) tidak memiliki independensi. TCMB terlalu dikendalikan oleh pemerintah. Indikasi ini dapat terlihat dari kebijakan TCBM yang tetap mempertahankan suku bunga, meski tekanan inflasi sudah terjadi. TCMB tetap mempertahankan suku bunga rendah, seiring adanya intervensi dari Presiden Recep Tayyip Erdogan yang tetap menghendaki suku bunga rendah agar tidak menghambat masyarakat untuk mengakses kredit yang murah. Sehingga, bisa membuat perekonomian tetap tumbuh tinggi. Masalahnya, mempertahankan suku bunga rendah juga bisa mendorong moral hazard peminjam dengan menggunakan kredit yang diterima bukan untuk tujuan produktif. Tetapi, untuk tujuan konsumtif yang tidak memberikan efek berganda pada perekonomian. Dengan berbagai permasalah internal ekonomi Turki ini dan adanya sanksi ekonomi dari AS membuat kejatuhan lira tidak dapat dihindarkan. Pengalaman Indonesia Situasi yang terjadi di Turki mengingatkan kita pada apa yang pernah dialami oleh Indonesia pada tahun 1997/98. Periode itu sering juga disebut dengan krisis moneter. Akar dari krisis ini dipicu oleh kejatuhan nilai tukar bath Thailand dan memicu efek penjalaran (contagion effect) pada Indonesia. Saat itu, kinerja perekonomian Indonesia juga cukup menjanjikan. Rata-rata pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen yang membuat sejumlah lembaga keuangan dunia memberikan pujian. Indonesia pun dijuluki sebagai "Macan Asia". Sayangnya, pertumbuhan tinggi ekonomi itu tidak dibangun di atas fondasi yang kuat. Tingginya ketergantungan terhadap ULN, lemahnya tata kelola di sektor perbankan, tidak independennya bank sentral, dan buruknya tata kelola pemerintah yang tecermin dari merebaknya budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) menjadi masalah internal ekonomi Indonesia. Ketika tekanan eksternal muncul, maka ambruklah fondasi yang lemah itu. Ekonomi Indonesia diterpa krisis. Reminder Pengalaman krisis itu menjadi momentum bagi Indonesia untuk melakukan perbaikan. Dan harus diakui, telah banyak perbaikan yang terjadi sejak krisis moneter itu. Salah satunya adalah makin membaiknya kehati-hatian dalam pengelolaan sektor keuangan, khususnya perbankan. Sektor ini harus dijaga dengan regulasi ketat karena inilah sektor yang menjadi jantung, sehingga aktivitas perekonomian bisa berdenyut. Itulah sebabnya, ketika berbagai tekanan dan sentimen eksternal bermunculan, seperti krisis subprime mortgage (2008), krisis utang Eropa (2010), gejolak harga komoditas (2011), Taper Tantrum (2013), devaluasi nilai tukar yuan (2015), perekonomian Indonesia relatif bisa bertahan dan tidak menimbulkan dampak yang buruk bagi sektor riil, seperti yang terjadi pada 1997/98. Meski begitu masih banyak pekerjaan rumah untuk memperkokoh fondasi ekonomi. Kita harus memberikan apresiasi pada pemerintah dalam empat tahun terakhir, khususnya dalam menjaga stabilitas inflasi, mengejar ketertinggalan infrastruktur, dan memperbaiki iklim investasi. Meski begitu, masih banyak yang harus dibenahi. Lihat saja, ketika pemerintah ingin mendorong pertumbuhan ekonomi, defisit transaksi berjalan (DTB) langsung memburuk. Pada kuartal II 2018, DTB kembali menembus level 3 persen terhadap PDB. Padahal, pada 2017, angkanya masih di bawah level 2 persen terhadap PDB. Memburuknya DTB ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi masih rapuh. Belum ada kemajuan di berbagai sektor, khususnya sektor manufaktur untuk mengungkit daya saing ekonomi. Bukan itu saja, sektor keuangan belum dalam membuat Indonesia masih tergantung pada pembiayaan eksternal, khususnya dari pembiayaan portofolio. Padahal, pembiayaan ini yang sangat rentan terimbas oleh sentimen dan ketidakpastian. Fondasi ekonomi yang belum solid inilah yang membuat rupiah menjadi rentan bergejolak dan melemah. Harus diakui pula bahwa sejak 2000, nilai tukar rupiah memang cenderung melemah. Untuk mengatasi pelemahan itu, kebijakan jangka pendek selalu menjadi solusi, seperti menaikkan suku bunga dan melakukan kebijakan pembatasan impor. Imbasnya bisa memberikan tekanan pada pertumbuhan ekonomi. Semoga kejatuhan nilai tukar lira menjadi sebuah reminder bagi pemerintah Indonesia dan otoritas terkait untuk terus memperkokoh fondasi ekonomi. Jika tidak, perekonomian Indonesia akan selalu rentan diterjang oleh ketidakpastian eksternal dan berimbas pada terganggunya stabilitas makroekonomi dan tertekannya kinerja pertumbuhan ekonomi. Akhirnya, kesejahteraan masyarakatlah yang menjadi taruhannya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Becermin pada Krisis Nilai Tukar Turki", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/09/21/130323626/becermin-pada-krisis-nilai-tukar-turki.

Editor : Bambang Priyo Jatmiko

Desmon Silitonga Head Investment Analis PT Capital Asset Management, alumnus Pascasarjana FE UI. Becermin pada Krisis Nilai Tukar Turki Desmon Silitonga Kompas.com - 21/09/2018, 13:03 WIB Petugas menunjukkan uang Lira di kantor penukaran uang di Istanbul, 13 Agustus 2018. Dirundung krisis ekonomi, nilai tukar mata uang Turki lira merosot tajam. Hingga Jumat (10/8/2018) lalu, posisi lira anjlok 15,88 persen ke level 6,4323 per dollar Amerika Serikat (AS). Petugas menunjukkan uang Lira di kantor penukaran uang di Istanbul, 13 Agustus 2018. Dirundung krisis ekonomi, nilai tukar mata uang Turki lira merosot tajam. Hingga Jumat (10/8/2018) lalu, posisi lira anjlok 15,88 persen ke level 6,4323 per dollar Amerika Serikat (AS).(AFP PHOTO/YASIN AKGUL) PEREKONOMIAN Indonesia sedang dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Dari sisi eksternal, berbagai risiko terus bermunculan. Kita belum selesai disuguhi dengan perang dagang antara AS dengan sejumlah negara, khususnya China dan tekanan yang dialami oleh sejumlah negara di kawasan emerging. Salah satunya Turki. Sebagaimana diketahui, pada pertegahan Agustus 2018, nilai tukar lira Turki terjerembab sebesar 16 persen terhadap nilai tukar dollar AS. Ini merupakan pelemahan harian paling dalam dan membuat kinerja nilai tukar lira menjadi yang terburuk di antara nilai tukar di kawasan emerging. Situasi ini membuat ekonomi Turki berada di ambang krisis. Jika tidak ditangani dengan serius dan komprehensif, bisa membuka ruang bagi terjadinya krisis ekonomi baru. Harus diakui dengan keterbukaan ekonomi global, permasalahan ekonomi di satu negara bisa memicu penjalaran (contagion) terhadap ekonomi negara-negara lain. Harus diakui bahwa kejatuhan nilai tukar lira ini merupakan buah dari ketidakhati-hatian, khususnya dalam pengelolaan utang luar negeri (ULN). Turki terlalu bergantung pada ULN, khususnya yang berasal dari negara-negara di Eropa. Turki memanfaatkan rendahnya tingkat suku bunga pinjaman di Eropa untuk terus mengakumulasi ULN. Tidaklah mengherankan, pada tahun 2017, total ULN Turki (pemerintah dan Korporasi) menembus 453,2 miliar dollar AS. Nilai ULN meningkat dua kali lipat dibandingkan posisi ULN pada 2009. ULN ini digunakan sebagai sumber pembiayaan ekonomi. Tidaklah mengherankan, pada kuartal I 2018, ekonomi Turki bisa tumbuh sebesar 7,4 persen (year on year/yoy). Bahkan, pada kuartal III 2017 sempat menyentuh level 11,3 persen (yoy). Tidak banyak negara yang mampu mencapai pertumbuhan ekonomi setinggi ini, khususnya di tengah moderasi pertumbuhan ekonomi global. Namun, masalah mulai terjadi, yaitu ketika bank sentral di negara-negara maju, khususnya AS, mulai menaikkan suku bunga kebijakannya seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian dan untuk mengantisipasi lonjakan inflasi. Dana global balik kandang dan aliran dana keluar pun mulai berlangsung. Turki tidak bisa mengantisipasinya, karena terlalu terlena dengan ULN yang murah. Turki pun tidak disiplin dalam menjaga kesehatan fiskal dan moneternya. Hal ini tecermin dari besarnya defisit transaksi berjalan (DTB). Dalam sepuluh tahun terakhir, Turki setidaknya terus didera oleh DTB besar. Tidak ada perbaikan yang signifikan. Situasi makin tak kondusif karena pemilik dana di pasar keuangan Turki memberikan hukuman dengan menarik dana mereka secara beramai-ramai. Pemilik dana telah mengingatkan bahwa Bank Sentral Turki (TCMB) tidak memiliki independensi. TCMB terlalu dikendalikan oleh pemerintah. Indikasi ini dapat terlihat dari kebijakan TCBM yang tetap mempertahankan suku bunga, meski tekanan inflasi sudah terjadi. TCMB tetap mempertahankan suku bunga rendah, seiring adanya intervensi dari Presiden Recep Tayyip Erdogan yang tetap menghendaki suku bunga rendah agar tidak menghambat masyarakat untuk mengakses kredit yang murah. Sehingga, bisa membuat perekonomian tetap tumbuh tinggi. Masalahnya, mempertahankan suku bunga rendah juga bisa mendorong moral hazard peminjam dengan menggunakan kredit yang diterima bukan untuk tujuan produktif. Tetapi, untuk tujuan konsumtif yang tidak memberikan efek berganda pada perekonomian. Dengan berbagai permasalah internal ekonomi Turki ini dan adanya sanksi ekonomi dari AS membuat kejatuhan lira tidak dapat dihindarkan. Pengalaman Indonesia Situasi yang terjadi di Turki mengingatkan kita pada apa yang pernah dialami oleh Indonesia pada tahun 1997/98. Periode itu sering juga disebut dengan krisis moneter. Akar dari krisis ini dipicu oleh kejatuhan nilai tukar bath Thailand dan memicu efek penjalaran (contagion effect) pada Indonesia. Saat itu, kinerja perekonomian Indonesia juga cukup menjanjikan. Rata-rata pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen yang membuat sejumlah lembaga keuangan dunia memberikan pujian. Indonesia pun dijuluki sebagai "Macan Asia". Sayangnya, pertumbuhan tinggi ekonomi itu tidak dibangun di atas fondasi yang kuat. Tingginya ketergantungan terhadap ULN, lemahnya tata kelola di sektor perbankan, tidak independennya bank sentral, dan buruknya tata kelola pemerintah yang tecermin dari merebaknya budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) menjadi masalah internal ekonomi Indonesia. Ketika tekanan eksternal muncul, maka ambruklah fondasi yang lemah itu. Ekonomi Indonesia diterpa krisis. Reminder Pengalaman krisis itu menjadi momentum bagi Indonesia untuk melakukan perbaikan. Dan harus diakui, telah banyak perbaikan yang terjadi sejak krisis moneter itu. Salah satunya adalah makin membaiknya kehati-hatian dalam pengelolaan sektor keuangan, khususnya perbankan. Sektor ini harus dijaga dengan regulasi ketat karena inilah sektor yang menjadi jantung, sehingga aktivitas perekonomian bisa berdenyut. Itulah sebabnya, ketika berbagai tekanan dan sentimen eksternal bermunculan, seperti krisis subprime mortgage (2008), krisis utang Eropa (2010), gejolak harga komoditas (2011), Taper Tantrum (2013), devaluasi nilai tukar yuan (2015), perekonomian Indonesia relatif bisa bertahan dan tidak menimbulkan dampak yang buruk bagi sektor riil, seperti yang terjadi pada 1997/98. Meski begitu masih banyak pekerjaan rumah untuk memperkokoh fondasi ekonomi. Kita harus memberikan apresiasi pada pemerintah dalam empat tahun terakhir, khususnya dalam menjaga stabilitas inflasi, mengejar ketertinggalan infrastruktur, dan memperbaiki iklim investasi. Meski begitu, masih banyak yang harus dibenahi. Lihat saja, ketika pemerintah ingin mendorong pertumbuhan ekonomi, defisit transaksi berjalan (DTB) langsung memburuk. Pada kuartal II 2018, DTB kembali menembus level 3 persen terhadap PDB. Padahal, pada 2017, angkanya masih di bawah level 2 persen terhadap PDB. Memburuknya DTB ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi masih rapuh. Belum ada kemajuan di berbagai sektor, khususnya sektor manufaktur untuk mengungkit daya saing ekonomi. Bukan itu saja, sektor keuangan belum dalam membuat Indonesia masih tergantung pada pembiayaan eksternal, khususnya dari pembiayaan portofolio. Padahal, pembiayaan ini yang sangat rentan terimbas oleh sentimen dan ketidakpastian. Fondasi ekonomi yang belum solid inilah yang membuat rupiah menjadi rentan bergejolak dan melemah. Harus diakui pula bahwa sejak 2000, nilai tukar rupiah memang cenderung melemah. Untuk mengatasi pelemahan itu, kebijakan jangka pendek selalu menjadi solusi, seperti menaikkan suku bunga dan melakukan kebijakan pembatasan impor. Imbasnya bisa memberikan tekanan pada pertumbuhan ekonomi. Semoga kejatuhan nilai tukar lira menjadi sebuah reminder bagi pemerintah Indonesia dan otoritas terkait untuk terus memperkokoh fondasi ekonomi. Jika tidak, perekonomian Indonesia akan selalu rentan diterjang oleh ketidakpastian eksternal dan berimbas pada terganggunya stabilitas makroekonomi dan tertekannya kinerja pertumbuhan ekonomi. Akhirnya, kesejahteraan masyarakatlah yang menjadi taruhannya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Becermin pada Krisis Nilai Tukar Turki", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/09/21/130323626/becermin-pada-krisis-nilai-tukar-turki.

Editor : Bambang Priyo Jatmiko

Kamis, 06 September 2018

SMARTPHONE

SMARTPHONE

Bagaimana memanfatkan telepon pintar (smartphone)  untuk meyukseskan kita?

CUWM  harus menjadi CU digital. Berbagai komunikasi dan informasi bisa disajikan di situ sehingga  CU berjalan dengan lancar, termasuk dalam soal pembayaran dan penagihan.  Mari berubah. Cara menyampaikan aspirasi.




JPS, 7 September 2018.